Mengisi Kekosongan Waktu Selama Physical Distancing

            Physical Distancing merupakan kata pembaharuan yang diberikan oleh WHO,  sebelum diubah kata tersebut adalah social distancing. Mengapa perlu adanya pembaharuan? Karena WHO memberikan pernyataan bahwa kata social distance kurang tepat dengan situasi saat ini, kita memang diharuskan untuk saling berjauhan untuk tidak kontak fisik, namun bukan berarti tidak kontak sosial. WHO ingin agar masyarakat untuk saling menjaga jarak secara fisik, bukan secara sosial. Karena itulah digunakan istilah physical distancing bukan lagi social distancing. Jadi tetaplah untuk saling mencari cara agar tetap berkomunikasi walau harus menjaga jarak secara fisik, bisa melalui alat komunikasi digital atau semacamnya itu.

Pada kesempatan ini saya pribadi akan menceritakan beberapa kegiatan selama mengikuti himbauan yang diberikan oleh pemerintah untuk tetap dirumah saja. Awalnya mungkin ini terasa berat bagi saya pribadi, terlebih lagi saya bukan tipe pribadi yang betah untuk dirumah saja. Mengingat kegiatan sehari hari saya diisi dengan adanya jadwal perkuliahan dengan bertatap muka langsung dengan dosen dan bertemu dengan kawan-kawan, bermain ke sekre himpunan hanya sekedar berdiskusi, main, atau sebagainya. Itu merupakan hal yang mungkin untuk saat ini sangat sulit untuk dilakukan kembali, namun inilah yang terbaik untuk saya, kawan, dan seluruh masyarakat di dunia saat ini.

Mengawali pagi hari dengan suatu kewajiban yang dilakukan oleh seluruh umat muslim di dunia ini, yaitu sholat 2 rakaat. Mulai melanjutkannya dengan work out hingga berjemur dibawah terik matahari pagi, guna meningkatkan imunitas tubuh kita (sesuai himbauan yang diberikan oleh pemerintah). Setelahnya mulai membersihkan diri, makan sembari berdiskusi dengan orang rumah (ini merupakan satu kegiatan yang jarang saya temukan ketika saya keluar rumah, namun bisa saya dapatkan secara berskala saat ini). Memasuki siang hari, memulainya dengan mengikuti e-learning yang disediakan oleh dosen, ataupun jika tidak ada mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen sebagai pengganti e-learning, agar tidak tertinggal materi. Hingga dipenghujung hari tiba, biasanya saya habiskan waktu itu dengan membaca, menonton youtube dan update berita mengenai wabah covid-19 yang menjadi pandemi untuk saat ini, lalu kebiasaan terakhir saya yaitu menulis di secarik kertas yang nantinya saya tuangkan diblogger pribadi.

Pada hari-hari selanjutnya dapat dikatakan kurang lebih kegiatannya akan sama seperti diatas, hanya saja saya masih memiliki tanggung jawab lain yaitu adanya program kerja dibulan ramadhan nanti yang akan diselenggarakan oleh salah satu organisasi eksternal saya, nama kegiatannya ialah “Miracle of Ramadhan”. Ini merupakan proker wajib pada setiap tahunnya yang selalu ada, dimana kita tetap berdiskusi secara kontak sosial menggunakan alat komunikasi digital, dan membahas konsepan, dan lainnya hingga ketahap fiksasi kegiatan tersebut.

Jujur, saya merupakan pribadi yang tidak bisa tinggal atau menetap disuatu tempat dengan kondisi statis (kondisi yang seperti itu-itu saja). Maka dari itu saya cukup resah dengan kondisi seperti saat ini, saya mulai memikirkan hal baru apa yang harus saya munculkan pada kondisi seperti ini untuk menghilangkan rasa keresahan saya. Ada satu malam dimana saya berpikiran untuk mengadakan kontak sosial melalui aplikasi zoom, dengan tidak hanya sekedar mengobrol biasa akan tetapi saya pribadi yang memiliki ilmu agama yang cukup kurang, disitu saya berpikiran untuk mengajak salah satu teman saya yang saya percaya kalau ia lebih paham mengenai agama, dan saya juga turut mengajak beberapa kawan saya yang ingin juga berdiskusi mengenai agama untuk sama-sama menaikkan rasa pemahaman terhadap agama sendiri. Dan tibalah dimana malam yang saya inginkan tersebut, dimana kita mulai mengawali dengan canda bercampur tawa dan dihiasi oleh beberapa rasa kerinduan karena tidak dapat bertemu secara langsung. Pembahasan sesuai dengan alur yang saya inginkan hingga dimana kita mulai lupa waktu karena keasikan berdiskusi dan bercanda pada malam itu.

Kondisi seperti ini saya akui benar-benar menjadi polemik bagi seluruh masyarakat yang tidak terbiasa melakukannya, akan tetapi jika patut kita sadari kembali ini merupakan langkah yang cukup tepat untuk menghindari atau meminimalisir proses penyebaran covid-19 yang mulai meresahkan dunia, terkhusus Indonesia (Jakarta). Tidak ada salahnya kita sebagai masyarakat untuk mematuhi apa yang dianjurkan, dan mereka (instansi) mencoba untuk membenahi dan mengobati Negara ini. Tugas kita sebagai masyarakat biasa? Mematuhi, mengikut, mulai mencari inovasi baru untuk memikirkan bagaimana agar kita dapat membantu negeri ini untuk cepat pulih dan dapat beraktivitas seperti biasanya.

Lekas pulih wahai bumi Ibu pertiwi, aku rindu dengan suasana yang tidak mencekam seperti saat ini. Aku rindu masa-masa dimana dapat bersosialisasi dengan masyarakat lainnya diluar sana. Satu yang aku ingin, dapat kembali seperti sedia kala dimana negeri ini baik-baik saja tanpa ada rasa ketakutan yang mulai perlahan mengambil alih dunia.

Komentar